Catatan Reflektif atas LF Bekasi

Catatan Reflektif atas LF Bekasi

Seperti tujuan awalnya, bahwa forum belajar menempatkan dirinya sebagai wahana belajar bersama dalam menggali pengalaman berserikat untuk mewujudkan serikat buruh yang demokratis. Untuk bisa mencapai tujuan itu jelas dibutuhkan pengalaman-pengalaman baru dalam berdemokrasi dan melihat suatu persoalan ketika kita berjuang di serikat buruh dengan segala aktifitasnya, sehingga forum belajar diharapkan bisa menjadi salah satu metode (dalam kerangka pendidikan) di dalam Serikat Buruh yang secara konstan membangun cara pandang terhadap persoalan buruh secara sosial dan politis, sehingga kemudian mampu melahirkan pengalaman berdemokrasi yang pada akhirnya mewujudkan watak serikat buruh yang demokratis.

Jelas, ketika usaha-usaha untuk mencapai tujuan ini mendapatkan banyak hambatan. Selain karena eksperimen kita dalam menjalankan forum belajar ini hanya berbekal sedikit sekali pengalaman, faktor tradisi berserikat yang sudah ada juga berpengaruh terhadap pembelajaran yang berlangsung. Secara sederhana, era orde melakukan kontrol terhadap serikat buruh, dan segala aktifitas serikat buruh termasuk di dalamnya aktifitas pendidikan nyaris lepas dari kritik, sehingga meniadakan proses demokrasi di dalam tubuh serikat itu sendiri. Pendidikan serikat buruh yang gemar pada hal-hal yang bersifat keterampilan (teknis-praktis), metode penyampaian guru dengan murid, membuat peserta belajar tidak bisa menggali nilai-nilai dalam serikat buruh itu sendiri, dan hanya di posisikan sebagai objek sehinggga tidak bisa bersikap kritis dan terbuka sehingga kemudian terbangun dialog.

Sampai saat ini, metode pendidikan ‘warisan’ masih terus berlangsung. sehingga pengalaman berdemokrasi nyaris tidak bisa dimulai dari proses pendidikan itu sendiri, sehingga kader-kader yang lahir dari proses pendidikan demikian sulit untuk menemukan bentuk-bentuk penerapan demokrasi ketika menjadi pengurus karena minimnya pengalaman berdemokrasi.

Peserta forum belajar sejak awal menghadapi persoalan minimnya pengalaman berdemokrasi. Dan forum belajar bereksperimen dengan persoalan tadi. Persoalan bagaimana membangun prasyarat untuk sebuah era demokrasi yang ditandai dengan kebebasan berserikat, tentu saja sesuai dengan kapasitas dari forum belajar itu sendiri. Dan prasyarat itu adalah berpikir kritis. Namun diakui forum belajar seperti lengah dari itu, dari bagaimana membangun cara berpikir yang kritis atas peserta forum belajar itu sendiri, tentu saja cara berpikir kritis ini pada awalnya bertujuan untuk melihat kondisi atau persoalan SB saat ini, termasuk di dalamnya adalah pola pendidikan, dan praktik organisasi, yang seringkali menempatkan anggota hanya sebagai penonton.

Masa era kebebasan berserikat bisa dikatakan sebagai masa transisi dimana pengalaman berdemokrasi di serikat buruh masih minim ditambah munculnya masalah-masalah lain seperti perpecahan di SB itu sendiri, dan dalam kondisi seperti ini jelas dibutuhkan suatu model pendidikan di tubuh serikat buruh yang bisa kembali menggali tentang nilai-nilai dalam gerakan buruh sehingga mampu menghasilkan perubahan yang mendalam bukan hanya teknik-teknik berdemokrasi yang sangat prosedural. Tapi demokrasi kembali dimaknai sebagai perubahan yang dimandatkan oleh anggota melalui partisipasinya dalam keputusan organisasi.

Karena itu forum belajar berusaha menggali kembali nilai-nilai tadi melalui upaya pembelajaran yang secara konstan mampu membangun watak demokratis. Sehingga kemudian kebutuhan untuk saling berbagi pengalaman dalam membangun demokrasi dengan pengertian membangun partisipasi dan dialog di SB masing-masing peserta jelas diperlukan di sini, sehingga bisa sedikit mengatasi masalah kurangnya pengalaman berdemokrasi masing-masing peserta. Namun apa yang kita refleksikan dari perjalanan forum belajar Bekasi adalah proses berbagi pengalaman masih sekitar persoalan keterampilan (teknis-praktis) dan atau cenderung retorika.

Realitas lain dari forum belajar Bekasi adalah, lemahnya kesadaran peserta forum belajar mengenai pentingnya membangun mekanisme pendidikan di SB masing-masing peserta yang bertujuan untuk membangun partisipasi dan dialog, cara berpikir kritis, bukan hanya sekedar transfer keterampilan, atau pendidikan yang anti dialog. Sehingga kemudian dalam menghadapi persoalan-persoalan yang ada muncul kepercayaan sepenuhnya dari anggota, karena merekapun dilibatkan dan melihat langsung proses menyelesaikan masalah tadi. Pendidikan semacam ini bisa berlangsung apabila pesertanya tidak diposisikan sebagai objek, dan prosesnya dituntut sebagai proses penyadaran yang tidak anti dialog dan menghambat kesadaran kritis sehingga anggotapun dilibatkan sebanyak-banyak dalam aktifitas serikat sebagai proses pendidikan.

Forum belajar sebagai wahana belajar bersama menuntut adanya proses tukar pengalaman sebagai suatu cara dalam melakukan investigasi kenyataan yang dialogis yang dilakukan bersama-sama dan secara terus menerus dengan mengedepankan sikap saling belajar. Dari proses ini kemudian diharapkan muncul pemahaman yang lebih baik, sehingga kemudian peserta forum belajar bisa menjadi aktor yang berusaha menemukan persoalan yang nyata di dalam tubuh serikat buruhnya dan melakukan pembaharuan dari dalam dengan komitmen demokratisasi.

LF Bekasi yang proses perintisan dilakukan sejak bulan Juli 2007, sebagai wahana belajar bersama berusaha menjadi kritik terhadap model pendidikan SB yang cenderung anti dialog yang ditandai dengan adanya penumpukkan informasi dan pengetahuan, pembagian kekuasaan hanya pada orang yang itu-itu saja, manipulasi oleh elit pengurus dan budaya pendidikan yang mendidik orang menjadi objek. Sebaliknya LF berusaha mendorong munculnya dialog, pembagian peran, menempatkan peserta sebagai subjek untuk mencapai tujuan-tujuan LF dan kebutuhan-kebutuhan SB peserta LF yang sebelumnya sudah disepemahami dalam pembahasan mengenai LF yang efektif pada Bulan November 2007.

Dalam evalusi LF 23-24 Juni 2008 beberapa hal yang terkait teknis pelaksanaan coba di evaluasi. Salah satunya yang paling penting adalah persoalan peserta, seperti peserta yang mulai jenuh, seperti kadang datang kadang tidak, untuk persoalan ini maka harus ada penegasan dalam komitmen belajarnya nanti. Selain itu peserta juga di dominasi oleh sektor KEP dan presentase peserta perempuannya hanya 10%. Faktor ini kemudian menghambat dinamika forum hanya pada pengalaman2 di sektor KEP, dan kurangnya keterlibatan buruh perempuan.

Pada soal waktu, LF reguler di usulkan ditambah menjadi dua kali sebulan, dan mulai lebih cepat dari jam 12.00-18.00. Lalu evaluasinya dilakukan setiap enam bulan sekali. Satu angkatan LF satu tahun, dan akan ada LF selanjutnya dengan peserta yang berbeda, dan LF selanjutnya ini akan difasilitasi oleh peserta LF sebelumnya. Sehingga diharapkan faktor keberlanjutan bisa berjalan dengan menggunakan cara ini.

Dalam hal materi ada banyak masukan, termasuk peninjauan kembali mengenai silabus yang sudah dibuat agar disusun menjadi kurikulum lebih detail, sistematis, dan sesuai kebutuhan. Selain itu materi juga harus bisa menghubungkan kebutuhan LF dan kebutuhan peserta LF. Untuk materi yang sifatnya mendorong pada demokratisasi dan gerakan buruh dari sisi sosial politis di nilai belum dianggap menarik oleh peserta secara umum, karena belum adanya kesepemahan akan gerakan buruh itu sendiri, karena itu direkomendasikan diawal LF selanjutnya akan diadakan LF tematik selama tiga hari dua malam di wisma nusa bangsa, yang akan menggali pemahaman peserta mengenai gerakan buruh untuk membangun kesepemahaman peserta akan gerakan buruh dari sudut pandang sosial politis dan tujuan dari LF itu sendiri, sehingga kemudian diharapkan LF tidak lagi menjadi ajang belajar hal-hal yg teknis praktis dan berharap resep-resep praktis dari LF.

LF tematik selama 3 hari dua malam di wisma nusa bangsa yang rencananya akan dilaksanakan bulan Agustus ini dibiayai sepenuhnya oleh dana swadaya oleh peserta LF. Dan rencananya difasilitasi oleh Fauzi Abdullah. LF tematik ini juga sebagai pintu awal yg baru untuk membangun LF kedepan, sehingga bisa lebih dibangun lagi dinamika sektor, dan buruh perempuan dan tentu saja dengan pemahaman akan tujuan LF yang lebih baik sehingga LF tidak lagi fokus pada persoalan yang teknis-praktis.

Selain itu dari hasil diskusi dterungkap bahwa ada beberapa manfaat LF dalam konteks demokratisasi melalui mekanisme organisasi yang sepertinya tidak muncul dalam proses LF, tapi mulai berjalan di PUK beberapa peserta, seperti mulai munculnya keinginan untuk melembagakan pengawasan. Hal ini pernah di upayakan di PUK KAO tapi belum sepenuhnya berhasil karena bentuknya kemudian hanya menjadi penasehat, terus pentingnya proses2 yang dialogis dengan anggota juga sudah mulai dibangun. Manfaat2 seperti ini proses monitoringnya bisa melalui keterlibatan tim inti LF di SC kedepan.

Bogor, 24 Juni 2008

Tim LF Bekasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: